January 15th, 2006 by pupibelang

“Simfoni tubuh jatuh dan air mancur”

 

Dan perlahan, perlahan tapi pasti,aku mulai melihat gambar itu di kepalaku.Tubuh itu mulai jatuh.Dalam gerak lambat,dengan latar belakang langit biru jernih di sore yang cerah.Atau setidaknya, sejernih yang dapat diharapkan di kota polusi Jakarta. Di bawah, air mancur masih menyala.Air muncrat. Bergantian. Berirama.Tubuh jatuh. Air mengalir. Bening. Tentram sekali rasanya.Simfoni tubuh jatuh dan air mancur irama. Darah muncrat. Orang-orang menjerit. Kacau. Sekelilingku sunyi.Hanya kenyataan darah mengalir yang kutahu.Sunyi.Tak ada suara.Semua di dunia lain.Orang-orang berteriak,muka mereka berkerut-kerut,tapi tiada suara kudengar.

 

Hanya darah itu.Mengalir, mencampuri aliran air seirama bening-tenteram.Indah.Mengalir ke dalam lubang sirkulasi.Keluar sebagai air mancur berirama.Alangkah indah.

Di kafe starbuck tak jauh dari sana, kulihat tubuh seseorang.Berbalut jeans dan kaos putih,berambut super pendek. Memandang kosong di tengah teman-teman yang tertawa.Hanya menatap.Ke arah simfoni darah di air mancur.Dengan wajah tirus.Dan tubuh kurus berbalut kulit.

Lalu kusadari bahwa itu aku.Mengapa mata itu begitu kosong?Begitu mengerikan, intensitas kekosongan yang ada. Begitu sendiri, di tengah keramaian.

 

Kini air mancur tak hanya memancarkan percik-percik darah.Sedikit demi sedikit serpih-serpih daging mulai mencampurinya.

 

Air liurku menetes.Tiba-tiba kulihat tubuh kurus itu mendekat ke arah air mancur. Tangan-tangan itu meraih air bercampur darah,lalu membasuhkannya ke wajah. Mulut itu mulai memakan serpihan daging yang tersisa. Sampai habis.Lalu semua gelap.Dan kusadari, dagingkulah yang kumakan. Darahkulah yang kuminum.

Aku habis.

Plasa Senayan, 27 November 2005.

 

[Hit Counter]

 

“Sulur-sulur”

 

Ada sulur-sulur di mataku.

Memanjang, melambai, menjulur.

Membelit segala sekelilingku.

Bagai belalai dari neraka.

Menembus dinding, daun jendela, genting dan pintu.

Lalu meremukkan atap di atas kepalaku.

 

Aku diam. Lalu gelap. Lalu sepi.

Siapa itu? Yang menggoreskan tinta

dari bolpoin murahan di atas kertas

 

Bukan aku. Aku tertimbun di bawah reruntuhan atap.

Bersama sulur-sulur.

 

Telah beberapa lama mereka muncul.

Mulanya hanya sebagai cacing-cacing berwarna-warni.

Lalu memanjang.

Dan membesar.

Terus menguat.

Bergelantungan dari mataku.

Melambai seiring dengan langkahku.

 

Jakarta, Desember 2005.